Lecturer Weblog | Universitas Negeri Padang

 Rabu, 26-September-2018

Blog Post Section -->

Rasionalitas 40 Jam Kerja Seminggu Bagi Guru


Rabu, 26 Sepember 2018 | 02:32 WIB

RASIONALITAS 40 JAM SEMINGGU BAGI GURU

Ditulis oleh Nofrion
(Praktisi Pendidikan, Pengurus P3GI Sumatera Barat dan Anggota IGI Pusat)
Email. nofrion@fis.unp.ac.id


Akhir tahun 2017, penulis memiliki dua penggalan cerita terkait guru. Cerita pertama tentang “curhatan” guru berkaitan dengan  kebijakan pemerintah yang akan menerapkan kewajiban mengajar 40 jam seminggu.  Di sela-sela persiapan sebuah acara reuni, para guru bercerita: “Dulu 24 jam mau dikurangi, tapi malah sekarang bertambah menjadi 40 jam!”. Kalau bisa berteriak, barangkali suara guru-guru tersebut akan bisa memecahkan speaker yang sedang diuji coba oleh pembawa acara. Cerita kedua tentang seorang “fresh graduated” yang sedang menjadi guru honor di sebuah sekolah di daerah. Hampir tengah malam, guru honor tersebut menuliskan keluh kesahnya kepada penulis melalui medsos. “pak, bagaimana nasib kami guru honor pak?, di sekolah saya guru wajib mengajar 34 – 40 jam tatap muka. Jam itu habis untuk guru PNS pak, kami akan diberhentikan. Mohon pencerahannya pak”. Jujur, penulis terharu membaca kiriman chatting tersebut. Terbayang masa lalu, ketika dulu penulis awal tahun 2000an juga bekerja sebagai guru honor.

Kebijakan pemerintah menetapkan jam kerja guru 40 jam seminggu dipayungi oleh PP nomor 19 tahun 2017 tentang Perubahan atas PP nomor 74 tahun 2008 tentang Guru. Lalu, aturan ini diperkuat lagi oleh lahirnya Permendikbud nomor 23 tahun 2017 tentang Hari Sekolah. Dalam aturan tersebut dijelaskan bahwa guru sebagai Aparatur Sipil Negara/ASN wajib melaksanakan tugas di sekolah  selama 40 jam, baik sekolah yang sudah menerapkan lima hari kerja maupun sekolah yang masih melaksanakan enam hari kerja. Intinya, dalam seminggu guru wajib berada di sekolah 40 jam.

Pada dasarnya, ada tujuan baik dengan lahirnya aturan ini. Pemerintah melihat bahwa banyak guru bersertifikat pendidik tidak bisa memenuhi jam wajib mengajar 24 jam sehingga harus mencari jam tambahan ke sekolah lain yang terkadang letaknya berjauhan. Dengan berkonsentrasi di satu sekolah, kewajiban tersebut bisa terpenuhi. Sisi baik lainnya adalah, guru bisa lebih optimal melaksanakan tugas-tugas pokoknya sebagai pendidik seperti yang diamanatkan oleh UU nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen. Sehingga ketika pulang ke rumah, guru bebas dari tugas-tugas sekolah. Lebih lanjut, dalam aturan tersebut juga dijelaskan bahwa kewajiban 40 jam seminggu bagi guru tersebut bukan 40 jam mengajar tatap muka di depan kelas saja tapi termasuk tugas-tugas lain baik intrakurikuler, kokukurikuler maupun ekstrakurikuler. Guru bukan hanya mengajar tapi juga merencanakan, melaksanakan, menilai, membimbing serta melaksanakan tugas-tugas tambahan lainnya seperti menjadi Pembina Pramuka, Wali kelas atau tugas-tugas/kegiatan “outing class” dan aktif dalam kegiatan yang melekat dengan profesi guru dan organisasi baik di sekolah maupun di luar sekolah.

Hanya saja, di kalangan guru dan sekolah terjadi multi tafsir terhadap aturan tersebut. Faktanya, awal semester Januari – Juni 2018 di sebuah sekolah di kota Padang ada guru yang sudah kebagian jam mengajar 32 jam tatap muka di kelas per minggu. Logikanya, jika 32 jam guru mengajar di depan kelas lalu kapan guru tersebut melakukan empat tugas pokoknya yang lain mulai dari merencanakan, menilai, membimbing dan melaksanakan tugas tambahan?. Cukupkah dengan 8 jam yang tersisa?. Menurut pendapat penulis, itu sangat tidak cukup. Alasannya adalah, inti dari pembelajaran adalah perencanaan. Perencanaan yang baik adalah awal dari kesuksesan guru dalam mengajar. Jika menggunakan pendekatan ilmu komunikasi (public speaking) menyatakan bahwa “one minutes presentation = one hour preparation”. Karena pembelajaran adalah komunikasi maka porsi persiapan (perencanaan) harus mendapatkan alokasi waktu yang memadai. Perlu kita ingat, guru harus menganalisis dan mengembangkan materi, memilih media, menentukan model dan metode pembelajaran sampai dengan mempersiapkan instrumen penilaian dan menyusun laporan penilaian proses dan hasil belajar anak sampai mengkomunikasikannya dengan anak dan orang tua. Tidak hanya sebatas itu, idealnya setelah melaksanakan suatu pembelajaran maka guru harus melaksanakan refleksi dan evaluasi pembelajaran baik secara individu maupun dalam tim. Permasalahan yang ditemukan dalam pembelajaran akan diatasi dan dicari solusinya sehingga diharapkan tidak terjadi lagi pada pertemuan berikutnya. Sehingga, RPP itu harus berbasis pembelajaran. Bukan dibuat di awal semester untuk 16-18 minggu ke depan. Celakanya, praktik di lapangan justru ini yang terjadi.

Terlepas dari polemik yang ada. Penulis belajar dari sebuah kalimat bijak yang diungkapkan oleh seorang Penulis dan Motivator Amerika yang mengatakan “When there is a darknes, dare to be the first to shine a light” yang artinya, jika terjadi kegelapan maka berusahalah untuk menjadi orang yang membawa cahaya terang dengan menyalakan lilin. Melalui tulisan ini, penulis ingin memberikan ide agar pelaksanaan kewajiban 40 jam seminggu bagi guru itu berjalan efektif dan tidak memberatkan guru. Ide ini disamping lahir dari pemikiran penulis juga didasari oleh pengalaman mengikuti Program STOLS FOR ITTEP ke Jepang tahun 2014. Selama kegiatan, penulis bersama 21 orang dosen se Indonesia mengamati dan mempelajari bagaimana praktik pembelajaran di Jepang mulai dari TK sampai Perguruan Tinggi yang sudah melaksanakan Lesson Study.

Pertama, harus dibedakan antara kegiatan teaching dengan non teaching. Kegiatan teaching meliputi; 1) merencanakan, 2) melaksanakan, 3) menilai, 4) membimbing, 5) merefleksi pembelajaran. Kegiatan ini mendapat porsi utama. Lalu, kegiatan non teaching seperti menjadi wali kelas, Pembina Pramuka, Sispala, Pembina OSIS, Pengurus MGMP/Organisasi terkait profesi guru lainnya dan lain-lain. Jika memang harus diberlakukan 40 jam seminggu maka porsi untuk kegiatan Teaching adalah 80 – 90